Ketika Narapidana Menyulap Tembok Penjara Menjadi Taman Mural

Kesan penjara menyeramkan dan mengerikan begitu kuat melekat dalam benak masyarakat. Apalagi banyak film bergenre kekerasan dalam sel memperkuat brand tersebut. Tapi bila Anda mendatangi Lapas Klas IIB Muara Teweh, Kalimantan Tengah bisa jadi kesan itu berbeda jauh. 
GAZALI, Palangka Raya
INDOPOS.CO.ID - Penjara menjadi lokasi tempat berkumpulnya orang-orang yang melakukan tindak kejahatan. Ini sebagai bentuk sanksi dari sistem hukum yang memiliki banyak fungsi. Bahkan penjara sebagai penderitaan bagi pelanggar hukum agar membuat efek jera.
Apalagi penjara dikondisikan minim fasilitas. Dengan merasakan penderitaan, narapidana diharapkan jera. Ketika masa hukumannya berakhir,  napi tak mengulangi perbuatan melanggar atau melawan hukum.
Sementara Lembaga Pemasyarakatan (lapas) adalah tempat melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di indonesia. Sedangkan rumah tahanan negara (rutan) merupakan tempat tersangka atau terdakwa ditahan selama proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan disidang pengadilan. Biasanya dinding lapas dikelilingi tembok tinggi tanpa lukisan, tapi Lapas Klas II B Muara Teweh ini berbeda.
Melihat fungsi lapas sebagai tempat untuk pembinaan inilah, Kalapas Klas II B Muara Teweh, Mohammad Yahya melakukan sebuah inovasi mengubah suasana dalam lapas yang dulu keadaan temboknya polos melompong sekarang berubah dengan lukisan.
Hasil karya tangan ini jadi pemandangan yang enak dipandang, sehingga para warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan petugas tidak jenuh melaksanakan tugas sehari-hari. Mural atau lukisan-lukisan itu, terang Yahya, ternyata goresan tangan yang dibuat seorang napi bernama Joko Santoso alias Joko bin Wagiman. WBP tersebut terjerat pidana Pasal 372 KUHP dengan hukuman selama satu tahun tiga bulan penjara. ”Ini hasil karya Joko,” ungkap Yahya, baru-baru ini.
Sementara itu, Joko Santoso mengatakan, tujuannya melukis tembok lapas sebenarnya agar tidak jenuh atau stres memikirkan pidananya. Awalnya hanya satu tembok yang dilukis, setelah melihat hasil karyanya baik dan memuaskan beberapa tembok lainnya pun jadi sasaran goresan tangan Joko. ”Saya memang suka melukis dan ketika diminta melukis sangat senang. Apalagi karya saya akan dilihat banyak orang,” kata Joko.
Yahya pun merespon inisiatif salah satu WBP lapas yang ingin mengubah suasana lapas, seperti taman penuh lukisan pemandangan dan enak untuk dipandang.
Pihak lapas menyediakan bahan-bahan seperti cat dan kuas serta lainnya untuk kelengkapan menyulap lapas menjadi  sebuah tempat pembinaan yang penuh taman lukisan. Ternyata respon baik seluruh WBP lapas dengan membantu Joko mengerjakan lukisannya.
”Hasilnya bisa dilihat. Lapas penuh lukisan dan cocok sebagai latar pengambilan foto atau dokumentasi,” lanjut Yahya.
Sementara Kepala Divisi Pemasyarakatan Anthonius M. Ayorbaba mengaku sudah melakukan kunjungan ke lapas tersebut dan mengucapkan terima kasih atas langkah yang diambil Kalapas Kelas II B Muara Teweh.
Salah satu trik atau cara pembinaan yang baik dimana fungsinya sebagai penghilang rasa jenuh bagi WBP yang menjalani masa hukuman dalam lapas, sehingga mereka senang dan merasa seperti di lingkungan masyarakat.
”Kantor Wilayah Kemenkum dan ham Kalteng mengapresiasi langkah yang dilakukan Lapas Muara Teweh, karena tujuan akhirnya tercipta keadaan kondusif yakni aman dan tertib bagi Lapas itu sendiri,” kata Anthonius. (*/top/jpnn)
 Sumber  :  http://nusa.indopos.co.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Pegawai Lapas Dan Rutan Dilatih Kesamaptaan

Kuatkan Nilai Pancasila, BPIP Perlu Payung Hukum Berupa UU

Denny Menjawab SMS Anda