Petugas Lapas Ujung Tombak Rehabilitasi
| Ilustrasi |
“Ada berbagai model terapi rehabilitasi yang diterapkan. Sebelum pelayanan ini dilakukan, petugas di Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) harus melaksanakan asesmen dengan maksimal,” kata Direktur Penguatan Lembaga Rehabilitasi Intansi Pemerintah (PLRIP) Badan Narkotika Nasional (BNN) Brigjen Pol Ida Oetari Poernamasasi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kemarin.
Pelatihan asesmen dan rencana terapi bagi petugas rehabilitasi yang tersebar di RSUD, puskesmas dan lembga pemasyarakatan (lapas) sangat penting. Karena pada dasarnya asesmen ini bertujuan untuk mengembangkan rencana terapi dan menentukan layanan spesifik yang akan dilakukan terhadap para penyalahguna atau pecandu narkoba.
Ditambahkan Ida bahwa petugas di lapangan merupakan ujung tombak pelaksana rehabilitasi. Dengan pelatihan ini petugas harus dapat membedakan antara asessmen dengan skrining. Kepala BNN Provinsi (BNNP) Kalimantan Selatan Drs. Richard M. Nainggolan mengatakan pelaksanaan program rehabilitasi dilaksanakan akibat meningkatnya prevalensi pecandu dan korban penyalahguna narkotika setiap tahunnya.
“Tahun 2015 pemerintah menargetkan rehabilitasi 100 000 penyalahguna narkoba. Butuh dukungan semua pihak agar target tercapai, serta memberikan pelatihan asessmen kepada petugas RS dan Lapas untuk membantu program ini sangat penting,” ungkap Richard.
Terkait hal ini, BNN telah melaksanakan berbagai program sebagai wujud kesungguhan dan komitmen negara sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang No 35 tahun 2009.
BNNP Kalimantan Tengah menargetkan rehabilitasi 1.268 pecandu narkoba untuk merealisasikan “Gerakan Rehabilitasi 100.000 Pecandu Narkoba” di Indonesia.
“Pada tahun ini kita targetkan akan merehabilitasi 1.268 pecandu, hal ini merupakan salah satu upaya memberantas peredaran narkoba di Kalimantan Tengah,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Kalteng, Kombespol A Kadarmanta di Palangka Raya, Kamis.
Ia mengatakan, 1.268 orang pecandu narkoba tersebut akan menjalani rehabilitasi dengan metode perawatan intensif atau rawat inap dan rawat jalan atau tidak perlu perawatan intensif. (don)
sumber: http://www.suarakarya.id/
Komentar
Posting Komentar