Aktivitas Rutan Klungkung Memanfaatkan Lahan
![]() |
| Kepala Rutan Klungkung Mulyoko memperlihatkan kolam lele |
Sentralbali.com-Rutan Klungkung
belakangan ini kelihatan lebih asri, setelah di halaman banyak tanaman hijau
yang bermanfaat nampak subur. Setiap jengkal halaman Rutan di tanaman sayur,
tomat, cabe, sawi, kolam lele dan budidaya jamur.
Kepala Rutan Mulyoko, Kamis
(14/8/2014) membenarkan Rutan Klungkung
melibatkan binaannya untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat. Begitu masuk
kawasan rutan sudah terlihat hasil kerja para napi untuk mewujudkan idenya
bertani jamur, bahkan dirinya mendatangkan 150 lock bag (bungkus,red) bibit
jamur dari Luwus, Tabanan. Awalnya ada kendala untuk mulai bertani Jamur di
Klungkung karena suhu di Kota Semarapura tidak menentu dan cukup hangat.
Sementara untuk bertani jamur
butuh suhu yang dingin dengan kelembaban tinggi. Dia pun pasang karung goni di
dinding gedung yang akan dipakai untuk pertanian jamur. Karung goni tersebut
dibasahi dengan air lalu dipasang dilantai dan dinding. Ini dilakuka agar
kelembaban bisa tinggi. Ide ini pun ternyata cukup bagus dan kelembaban pun
bisa mencapai 70 sampai 80. Ide ini juga diakuinya sejalan dengan ajakan Kanwil
Kehakiman Bali soal memaksimalkan potensi rutan yang ada untuk pertanian,
dengan lebih mengoptimalkan ruang kosong untuk taman.
Selaian itu juga untuk pembinaan
buat binaan rutan agar ada aktifitas, dan mereka pun punya keterampilan
sehingga ketika keluar dari rutan binaan Rutan Klungkung punya keterampilan
lebih dan natinya bisa berguna atau diterapkan ketika bergabung dengan masyarakat. Untuk Jamur,
Mulyoko dalam waktu dekat akan mengembangkan lagi dengan mendatangkan 1000 lock
bag.
Sementara hasil panen Jamur Rutan
Klungkung cukup bagus. Per lock bag dapat 11 kg. sejak dua minggu dilakukan
penanaman sudah mulai panen. “Panen terus selama empat bulan baru
usai,”ucapnya. Aula dengan luas 4 kali 6 meter tersebut di sulap menjadi kebun
jamur. “Aula itu kurang dimanfaatkan selama ini paling untuk brifing, setahun
terkadang hanya 3 kali sisanya nganggur,” ujarnya.
Bertani Jamur diakui Mulyoko
tidaklah sulit, tinggal mengambil bibit yang sudah jadi dan memeliharanya,
langsung bisa menghasilkan. Sementara untuk tenaga kerja sangat melimpah di
rutan. Binaan pun dengan semengat merawatnya. “Modal awal tidak terlalu besar
hanya Rp 2.500 kali 150 lock bag,” ujarnya. Menurutnya seminggu dilakukan
perawatan sudah mulai tumbuh dan dalam dua minggu sudah mulai dipanen. Untuk
lebih seriuasnya, tiga anak binaan rutan Klungkung sempat mendapat pelatihan
selama tiga bulan di Luwus. Mereka adalah
Agus Santoso, Suwirta dan Charles. Ketiganya sudah cukup piawai bertani
jamur. Bahkan jamur yang dihasilkan tidak kalah subur dengan petani jamur
professional lainnya.
Sementara untuk pasar diakui
cukup bagus. Per kilo gram jamur dijual Rp 20 ribu. Bahkan untuk produksi jamur
di rutan Klungkung sudah ada yang mengambil
dari rumah makan. “Ya kami barter dengan makanan untuk penghuni, kami
dapat makan tukar dengan jamur hasil produski rutan,” ujarnya bangga. Bahkan dalam sebulan rutan Klungkung mampu
menjual sekitar 26 kg jamur, itu pun karena sebagian lagi dikomsumsi sendiri
penghuni rutan dan petugas rutan.
Sumber :
sentralbali.com

Komentar
Posting Komentar