Melongok Pembinaan Kepribadian dan Kemandirian Napi di Lapas Kelas II Sukabumi
Melongok
Pembinaan Kepribadian dan Kemandirian Napi di Lapas Kelas II Sukabumi
Rabu, 26 Februari 2014
Tak
Takut Kabur, Berdayakan Warga Tahanan Lewat Pencucian Motor untuk Umum
Sudah
sejak lama, Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Sukabumi melakukan pembinaan
kepribadian dan kemandirian terhadap warga binaannya. Tak hanya di dalam lapas,
pembinaan kepribadian juga dilakukan langsung berhubungan dengan lingkungan
luar.
Laporan,
Mulvi M.N Sukabumi,-
Membangun
manusia mandiri. Itulah slogan yang terlihat di Elpe Wash, bengkel cuci motor
yang dikelola Lapas Kelas II B Sukabumi. Tak jauh berbeda dengan tempat cuci
motor yang biasa kita temui di tempat lain. Hanya saja para pekerja di Elpe
Wash merupakan warga binaan Lapas.
Setiap
harinya, mulai Pukul 08:00 hingga 15:00 Elpe Wash dibuka. Tak kurang dari delapan
warga binaan melayani masyarakat lewat jasa pencucian motor di Lapas yang
terletak di Jalan Lettu Bakri ini. Meskipun langsung bekerja dan berinteraksi
dengan dunia luar, tak lantas membuat hal itu dijadikan kesempatan para napi
untuk kabur. “Mereka tetap dalam pengawasan para petugas lapas. Dan para napi
yang bekerja disini juga sudah melalui tahap seleksi,” ujar Kepala Lapas Kelas
II B Sukabumi, Muhamad Latif safiudin.
Latif
mensmbshksn, beberapa persyaratan harus dipenuhi para napi sebelum menjalani
pembinaan yang dekat lingkungan masyarakat luar itu. Para napi harus sudah
menjalani setengah atau menjelang 2/3 masa pidana. Selain itu, napi pun harus
memiliki surat jaminan dari keluarga yang ditandatangani ketua RT dan RW serta
Lurah/Kades sesuai tempat asal warga binaan.
“Status
narapidana yang dipekerjakan sudah masuk tahap asimilasi menjelang bebas.
Mereka juga akan disidang oleh Tim Penilai Pemasyarakatan. Selain masa pidana,
juga akan dilihat latar belakang kepribadian napi, surat jaminan serta minat
dan bakat,” paparnya.
Lebih
lanjut Latif mengatakan, semua proses pembinaan itu merupakan salah satu tugas
lapas. Bukan hanya dijadikan tempat melaksanakan hukuman, namun lapas pun harus
mampu melakukan pembinaan untuk dijadikan bekal para warga tahanan setelah masa
hukuman tuntas.
“Disini
mereka juga harus dibina agar mereka (napi, red) memiliki keahlian sesuai
dengan bakatnya,” paparnya.
Salah
satu warga binaan yang terpilih sebagai petugas pencuci motor di Elpe Wash, Ari
alias Mandor (49) mengatakan dirinya merasa hal tersebut merupakan penghargaan
yang diberikan Lapas. Mandor yang divonis 1,5 tahun kurungan penjara dan sudah
9 bulan menjalani hukumannya merasa kepercayaan yang diberikan begitu berharga
sebagai bekal keahlian setelah keluar dari lapas.
“Itikad
kami untuk berubah menjadi lebih baik benar-benar diperhatikan oleh pihak lapas,”
pungkasnya.
Dari
hasil kerjanya itu, Ari mendapatkan upah Rp 1.000 dari setiap motor yang ia
cuci. Meskipun tak banyak, kepercayaan untuk berinteraksi dengan lingkungan
luar sudah dirasa cukup mengobati kesumpekannya di Lapas.
“Setelah
bekerja, sorenya kami kembali ke dalam lapas,” pungkas napi yang divonis.(*)
+++www.radarsukabumi_Page_1.jpg)
Komentar
Posting Komentar