Melongok Kegiatan Lapas Kelas II B Nyomplong Sukabumi (2 habis)
Melongok Kegiatan Lapas Kelas II B Nyomplong
Sukabumi (2 habis)
Napi Pun Jadi Guru, Minta
Pemda dan Masyarakat Lebih Perhatian
27 Februari 2014
![]() |
| KERAJINAN SANDAL: Sejumlah napi dibina untuk
mengerjakan kerajinan sandal di Lapas Kelas IIB di Nyomplong, kemarin. Foto:ikbal/radarsukabumi |
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan
tempat pembinaan terhadap warga binaan atau narapidana yang sedang menjalani
masa tahanan. Keberadaannya sebagai tempat pembinaan mantan pelaku kejahatan
membuat Lapas kerap dikucilkan. Apalagi sering kali kabar tak sedap muncul dari
lapas, membuat beberapa kegiatan positif di dalamnya luput dari perhatian.
Laporan Mulvi M. Noor Sukabumi
Sekilas, dari raut wajah sejumlah napi di
Lapas Kelas II B Nyomplong Sukabumi, tak terlihat sedikit pun beban akibat
harus menjalani masa hukuman di dalam jeruji besi. Mereka asik bercengkrama
sambil melakukan beberapa pekerjaan dengan sesama penghuni lapas. Ada yang menjahit pakaian, merajut kain keset, membuat sendal hingga ada
pula yang sedang memberi makan ikan lele, di kolam pembesaran yang luas
ukurannya tidak lebih dari sepuluh meter.
Sementara, di tempat lain masih di dalam
Lapas, beberapa napi sedang mempersiapkan makanan, mencuci pakaian ada pula
yang sedang menanam benih cabai di lahan yang ukurannya sangat kecil. Sesekali
terdengar suara lantunan Al-quran dari para napi yang sedang mengaji di
pesantren Lapas.
Siapa sangka, beberapa pekerjaan yang bisa mereka lakukan itu didapatkan hanya dari bimbingan para pegawai lapas. Bahkan, ada pula yang didapatkan dari guru yang juga sesama napi.
Siapa sangka, beberapa pekerjaan yang bisa mereka lakukan itu didapatkan hanya dari bimbingan para pegawai lapas. Bahkan, ada pula yang didapatkan dari guru yang juga sesama napi.
“Alhamdulillah, kehalian yang saya miliki
bisa bermanfaat. Disini saya bisa berbagi ilmu dengan teman-teman napi yang
lain,” ujar salah satu napi, Endang yang mengajari kawan-kawannya membuat
sendal.
Meski mampu berkonstribusi lewat keahlian
yang dimilikinya, namun Ia masih belum puas. Dalam satu hari, Ia dan beberapa
kawannya sudah bisa menghasilkan tak kurang dari 100 pasang sendal hotel. Namun mereka belum merasa
maksimal, sendal-sendal yang dijual Rp 6.000 per pasang itu masih minim
peminat.
“Baru sedikit yang memesan,” lirihnya.
Alhasil, beberapa hasil kerja napi ini
dikumpulkan sementara sembari menunggu pesanan datang.
Hal yang sama juga dirasakan, Jalaludin. Napi
yang harus mendekam selama tiga tahun dibalik Lapas ini pun berharap Pemerintah
daerah bisa memberikan bantuan untuk pengembangan kepribadian dan kemandirian
warga binaan di Lapas Kelas II B Sukabumi.
“Dukungan dari para pegawai lapas ini akan
lebih baik lagi jika didukung pemerintah daerah. Dukungan bisa berupa pemberian
pembinaan atau bantuan apapun. Meski kami bisa dibilang orang-orang yang sedang
menjalani hukuman, namun tidak lantas hal itu dijadikan alasan agar kami
dikucilkan,” ujarnya.
Harapan Napi tersebut pun diamini Kepala
Lapas Kelas II B Sukabumi, Muhamad Latif safiudin. Melihat antusias warga
binaannya untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik, Ia pun berharap agar
pemerintah daerah dan masyarakat bisa membuka mata. Mendukung antusias para
penghuni jeruji besi ini agar menjadi manusia seutuhnya.
“Mereka adalah saudara kita yang butuh dukungan. Mereka pun harus diperhatikan,
bukan dikucilkan. Segala upaya yang mereka lakukan disini semata-mata agar bisa
menjadi pribadi mandiri, berguna dan menjadi manusia lebih baik ketika kembali
lagi ke masyarakat.” pungkasnya. (**)

Komentar
Posting Komentar