Pendampingan Rohani Para Napi di Lapas Penfui
Pendampingan
Rohani Para Napi di Lapas Penfui
Wednesday, October 16, 2013
Bapak
Anton, sebut saja begitu, meriwayatkan alasan keberadaannya di hotel prodeo
ini. Ia mengaku kalau akhirnya menemukan bahwa Tuhan itu begitu baik sekaligus
sangat adil, selalu mengasihi manusia ciptaanNya namun takkan segan menghukum
orang bersalah yang tak mau bertobat. Bagi Bapak Anton, keberadaanya di penjara
adalah kesempatan untuk merenungkan kembali masa lalunya yang sangat-sangat
jauh dari Tuhan.
Hujan
mengucur deras segera sesudah kami memasuki halaman lapas Penfui, Selasa, 15
Oktober 2013. Bergegas kami menuju ke gedung kapel yang sementara dibangun. Di
sana sudah berkumpul para napi sejak pukul tiga tadi. Kami terlambat beberapa
menit. Mereka telah selesai mendaraskan Rosario Kerahiman. Beberapa yang bosan
menunggu, sedang berjalan-jalan di halaman tengah.
Rombongan
kami sore ini terdiri dari dua orang pastor, dua orang suster dan empat orang
frater. Di pintu masuk, yang biasanya ada pemeriksaan ketat, para petugas lagi
bermain domino. Saya sempat melihat kartu yang dipegang seorang sipir berbadan
subur: lima tiga. Tak ada pemeriksaan.
Kami
dipersilakan masuk ke halaman tengah, sebuah ruang terbuka hijau
ditengah-tengah blok/barak para napi. Design landscape halaman tengah ini
dengan pepohonan kelapa, membawa ingatan saya menuju pesisir Caribia... atau
Lautan Teduh. Apakah para napi dan teman-teman rombongan mendapatkan kesan yang
sama?
Di
dalam kapel dengan arsitektur terbuka sudah tersedia keyboard dan soundsystem.
Namun kami tak bisa segera memulai katekese karena deru hujan di atas atap
sangat gaduh. Tidak mungkin kami bisa saling mendengarkan. Kami menunggu hingga
tigapuluh menit ketika hujan mereda. Beberapa napi lainnya bergabung dan
katekese segera dimulai.
kapel
terbuka - Lapas Penfui
Romo
Ande mengawali proses katekese dengan memperkenalkan diri. Beliau sudah
berkatekese di Lapas ini sejak tahun 1980-an. Namun, katanya beliau selalu
mengawali katekese dengan memperkenalkan diri, sebab faktanya, setiap kali
selalu ada peserta baru, yakni mereka yang baru bergabung menjadi napi. Usai
memperkenalkan diri, Romo Ande bercerita tentang Yusuf dan saudaranya di Mesir.
Kisah dari Kitab meruncing pada tema Yusuf yang dipenjara karena fitnah
Potifar. Ternyata Tuhan punya jalan sendiri bagi Yusuf. Ia akhirnya menjadi
penyelamat keluarganya sendiri dari kelaparan besar.
Berdasarkan
Kisah Yusuf tersebut, para peserta dibagi kedalam empat kelompok untuk
bersama-sama merenungkan pertanyaan: Bagaimana sampai aku bisa berada di tempat
ini? Saya ikut bergabung mendengarkan sharing pengalaman mereka. Karena
keterbatasan waktu, hanya dua orang yang mendapatkan kesempatan untuk membagi
pengalaman.
Pertemuan
singkat sore itu berakhir pada pukul 16.30. Setengah jam kemudian para napi
sudah harus berada dalam blok masing-masing. Dan rutinitas hotel prodeo kembali
membeku.
gua
maria di lapas penfui
Program
pendampingan untuk para napi sangat penting dilakukan, karena ada kecenderungan
masyarakat untuk tidak mau menerima mantan narapidana. Tidak heran jika
kemudian para mantan napi kembali berbuat kejahatan karena mereka itu tidak
tahu harus melakukan apa.
Kelompok
Napi di Lapas Penfui merupakan satu Kelompok Umat Basis Kategorial dalam
wilayah Paroki Santu Yosef Penfui. Anggota KUB ini berkisar seratusan orang.
"Jumlahnya selalu berubah, karena ada yang datang dan pergi, kata seorang
salah seorang napi. Pendampingan Rohani bagi para Narapidana yang beragama
Katolik di Lembaga Pemasyarakatan Penfui Kupang, dengan model misa, katekese
kitab suci, dan pendampingan spiritualitas diatur oleh Kepala Paroki St Yosef
Penfui. Tugas pendampingan dilaksanakan
oleh anggota biara-biara yang terdapat di wilayah Paroki Penfui.
Sumber : http://networkedblogs.com/Q5PY3
Komentar
Posting Komentar