Empat Napi Anak Medaeng-Blitar-Jombang Pentaskan "Lapar"
Empat Napi Anak
Medaeng-Blitar-Jombang Pentaskan "Lapar"
21 Jun 2013 11:38:47|
Budaya & Pariwisata | Penulis : Edy M Yakub
Surabaya (Antara Jatim)
- Empat narapidana anak dari balai pemasyarakatan anak di Medaeng (Sidoarjo),
Blitar, dan Jombang, yang tergabung dalam "Teater Rumah Hati"
mementaskan lakon "Lapar" di Auditorium Universitas Hang Tuah (UHT)
Surabaya, Kamis malam.
Di hadapan ratusan
mahasiswa jurusan psikologi se-Surabaya dan pengurus HIMPSI Jatim, seorang napi
anak dari BPA Medaeng, seorang napi anak dari BPA Blitar, dan dua anak napi
anak dari BPA Jombang itu mementaskan lakon yang menceritakan pengalaman
hidupnya.
Awalnya, keempat napi
bernama Samanhudi (16), Angga Riki Andika (14), Maulana Habibi (16), dan Muhammad
Andre Prasetya (14) bertemu di bawah tiang bendera merah putih di lapangan
upacara BPA pada suatu sore menjelang senja dan dalam selang waktu 2-3 jam
itulah terjadi percakapan tentang pengalaman hidupnya hingga masuk penjara.
"Saya lahir tanpa
tahu siapa bapak saya, kakak perempuan saya juga tidak tahu. Ibu pun datang
dengan membawa adik yang saya juga tidak tahu siapa bapaknya, semuanya nggak
jelas, akhirnya saya harus mengasuh adik saya," ujar Salman mengawali
cerita hidupnya.
Lain halnya dengan Habibie.
"Semuanya gara-gara bapak ingin anak perempuan setelah saya lahir, tapi
adik saya justru lahir laki-laki, sehingga bapak bercerai dengan ibu di saat
saya masih berusia dua tahun, sehingga ibu harus bekerja," ucapnya.
Akhirnya, ia harus
mengasuh adiknya, padahal adiknya mengalami cacat mental dan nakal, sehingga ia
pun mengalami kerepotan dan akhirnya ia memasung adiknya. "Itulah
masalahnya, saya pun ditahan, lalu siapa yang merawat adik saya kalau ibu
bekerja, sedangkan saya ada di penjara," tuturnya.
Cerita pun bergulir
kepada Angga yang berasal dari keluarga miskin dan tidak ada yang sekolah,
sehingga Angga terlahir sebagai anak yang temperamental, tapi suka mencuci baju
untuk membantu ibunya.
"Lenggang lenggang
kangkung nek pinggir kali, jarene saiki era reformasi nek golek pangan kok
setengah mati. (Lenggang lenggang kangkung di pinggir kali, katanya sekarang
era reformasi tapi mencari sesuap nasi kok sulit setengah mati)," ungkapnya,
bernyanyi.
Nyanyian Angga yang tak
kalah kritisnya adalah, "Lenggang lenggang kangkung nek pinggir, jarene
saiki reformasi kok akeh pejabat melbu bui. (Lenggang lenggang kangkung di
pinggir kali, katanya sekarang era reformasi tapi banyak pejabat kok masuk penjara/
pejabat korup)".
Sementara Andri
menggantikan Herman yang bermasalah, karena suka servis motor, lalu dipakai
keliling kota hingga mesinnya rusak, sehingga dia harus mengganti dengan uang
jutaan.
"Saya sering mimpi
dan kejadian yang saya alami sepertinya sering saya lihat dalam mimpi, tapi
saya nggak tahu kapan kejadiannya, saya lupa, embuh, rek (nggak tahu,
rek)," katanya.
Menurut sutradara
"Lapar" Zainuri, dirinya sering melatih mantan napi anak bermain
teater, tapi biasanya memerlukan waktu tiga bulan, namun pemain "Teater
Rumah Hati" itu memerlukan waktu lebih lama yakni lima bulan, apalagi
sampai ada yang "bermasalah" dan diganti.
"Lamanya waktu itu
karena mantan napi anak yang saya latih itu miskin, lebih liar, dan tidak
berpendidikan, sehingga mereka tidak bisa baca dan cara mengajari lebih sulit,
karena saya harus bercerita dulu, lalu mereka memainkannya, begitu
seterusnya," katanya.
Namun, pentas kali ini
tergolong sukses, karena Angga yang tidak bisa membaca dan suka mengamuk justru
membuat tertawa penonton. "Sebagai orang psikologi, mereka merasa
mendapatkan teori baru dengan adanya pengalaman hidup yang diteaterkan dan
menjadi obat 'lapar' jiwa," katanya. (*)
Editor : Chandra
Hamdani Noer
Sumber : http://www.antarajatim.com/lihat/berita/112601/empat-napi-anak-medaeng-blitar-jombang-pentaskan-lapar?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter
Komentar
Posting Komentar